Posted by: sayaguru on: January 19, 2009
Pada tanggal 14-16 Januari 2009 kemarin MANSA mengadakan diklat Smart Teaching menggunakan konsep Quantum Teaching dari Konsorsium Pendidikan Islam (KPI) Surabaya. Dari tiga hari pelatihan ada beberapa hal yang saya bisa peroleh tanpa harus membuka catatan. Yang pertama, dalam diklat tersebut guru disadarkan bahwa mereka saja bisa salah apalagi muridnya. Sehingga tanpa harus dinasehati peserta (termasuk saya) sadar bahwa seseorang dalam belajar itu bisa salah. Salah itu bisa dari ketidak tahuan, makanya belajar. Konsep ini membuat saya semakin terbuka menerima kesalahan atau ketidak mampuan siswa.
Yang kedua, seseorang apabila ditanya siapa orang yang berjasa selama ini? Jawabnya antara ayah dan ibu. Dengan begitu apabila guru ingin diingat dan dikenang kebaikannya oleh muridnya harus dapat berperan seperti layaknya seorang atau atau ibu. Yang pada dasarnya dalam mengajar harus disertai niat tulus dan ikhlas untuk membentuk generasi terbaik yang kita inginkan. Hal ini membuat saya ingat sosok bu Muslimah di Laskar Pelanginya Andrea Hirata.
Yang ketiga, saya juga disadarkan bahwasanya kecerdasan itu tidak hanya pandai menghafal, menghitung dan mendapatkan nilai baik saja. Bisa jadi anak itu cerdas dalam segi moral spiritual, agama, sosial, personal dan lainnya. Dalam istilah quantum teaching disingkat SLiM n BIL. Yaitu spasial visual, linguistik, interpersonal, musikal, natural, bodi kinestetik, intrapersonal, dan logika matematika. Dari sini guru harus mengerti siswanya cerdas di bagian mana. Apabila diketahui kecerdasan siswa di salah satu bidang dapat dijadikan modal untuk mengasahnya menjadi lebih baik. Ada kisah yang ditulis di buku Smart Parents for Smart Sutudents karya Miftahul Jinan bahwa ada kakak beradik. Sang kakak begitu berprestasi di sekolah. Baik itu pelajaran ataupun kegiatan ekstranya. Sedangkan adiknya tidak menampakkan bakat sebagaimana anaknya. Akan tetapi sang adik senang berdoa dan amalan agamis lainnya. Dari sini orangtuanya sadar bahwa walaupun IQ anak keduanya tidak setinggi kakaknya akan tetapi ESQ-nya sang adik melebihi kakaknya. Sehingga guru disadarkan bahwa muridnya tidak ada yang bodoh. Tinggal dilihat dari sisi mana murid itu cerdas.
Dari kegiatan itu saya menggebu-gebu ingin segera melaksanakannya. Wallahu a’lam.
January 28, 2009 at 4:29 am
Assalamu’alaikum Wr.Wb.
Sebagai guru kita harus berupaya dalam peningkatan kualitas anak didik kita. Dengan model pembelajaran yang menyenangkan akan membuat iklim belajar anak dalam kelas menjadi bersemangat dan aktif sehingga diharapkan dari kondisi seperti ini akan dapat meningkatkan prestasi belajar siswa itu sendiri. Pembelajaran yang menyenangkan bagi siswa dapat berpengaruh terhadap terciptanya kondisi yang lebih aktif dan kreatif . Akan tetapi perlu di ingat bahwa dalam kondisi yang demikian guru harus selalu mengendalikan situasi sehingga siswa tidak terlarut dalam suasana bebas yang tak terbatas. Bagaimana pun konteks pembelajaran harus tetap berpegang pada alur sesuai dengan kondisi sekolah yang berfungsi sebagai lembaga pendidikan. Kaidah pendidikan, nilai dan norma harus tetap dijadikan sebagai alat kendali, sehingga hasil pendidikan itu sendiri dapat mencetak manusia yang cerdas dan bermoral.
Demikian sedikit tanggapan yang dapat saya sampaikan dan mohon maaf apabila ada tanggapan yang tidak berkenan. Wassalam Wr.Wb.